Rabu, 13 Maret 2013

Pengantar Pendidikan

a. Pendidikan
Pendidikan sebagai usaha sadar yang sistematis-sistemik selalu bertolak darisejumlah landasan serta pengindahan sejumlah asas-asas tertentu. Landasan dan asas tersebut sangat penting, karena pendidikan merupakan pilar utama terhadap perkembangan manusia dan masyarakat bangsa tertentu. Beberapa landasan pendidikan tersebut adalah landasan filosofis, sosiologis, dan kultural, yang sangat memegang peranan penting dalam menentukan tujuan pendidikan. Selanjutnya landasan ilmiah dan teknologi akan mendorong pendidikan untuk mnjemput masa depan.

1. Landasan Filososfis
a. Pengertian Landasan Filosofis
Landasan filosofis bersumber dari pandangan-pandanagan dalam filsafat pendidikan, meyangkut keyakianan terhadap hakekat manusia, keyakinan tentang sumber nilai, hakekat pengetahuan, dan tentang kehidupan yang lebih baik dijalankan. Aliran filsafat yang kita kenal sampai saat ini adalah Idealisme, Realisme, Perenialisme, Esensialisme, Pragmatisme dan Progresivisme dan Ekstensialisme

1. Esensialisme
Esensialisme adalah mashab pendidikan yang mengutamakan pelajaran teoretik (liberal arts) atau bahan ajar esensial.

2. Perenialisme
Perensialisme adalah aliran pendidikan yang megutamakan bahan ajaran konstan (perenial) yakni kebenaran, keindahan, cinta kepada kebaikan universal.

3. Pragmatisme dan Progresifme
Prakmatisme adalah aliran filsafat yang memandang segala sesuatu dari nilai kegunaan praktis, di bidang pendidikan, aliran ini melahirkan progresivisme yang menentang pendidikan tradisional.

4. Rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme adalah mazhab filsafat pendidikan yang menempatkan sekolah/lembaga pendidikan sebagai pelopor perubahan masyarakat.
b. Pancasila sebagai Landasan Filosofis Sistem Pendidkan Nasional
Pasal 2 UU RI No.2 Tahun 1989 menetapkan bahwa pendidikan nasional berdasarkan pancasila dan UUD 1945. sedangkan Ketetapan MPR RI No. II/MPR/1978 tentang P4 menegaskan pula bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat indonesia, kepribadian bangsa Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia, dan dasar negara Indonesia.

2. Landasan Sosiolagis
a. Pengertian Landasan Sosiologis
Dasar sosiolagis berkenaan dengan perkembangan, kebutuhan dan karakteristik masayarakat.Sosiologi pendidikan merupakan analisi ilmiah tentang proses sosial dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiolagi pendidikan meliputi empat bidang:
1. Hubungan sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain.
2. hubunan kemanusiaan.
3. Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya.
4. Sekolah dalam komunitas,yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok sosial lain di dalam komunitasnya.
b. Masyarakat indonesia sebagai Landasan Sosiologis Sistem Pendidikan Nasional
Perkembangan masyarakat Indonesia dari masa ke masa telah mempengaruhi sistem pendidikan nasional. Hal tersebut sangatlah wajar, mengingat kebutuhan akan pendidikan semakin meningkat dan komplek.
Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan untuk menyesuaikan pendidikan dengan perkembangan masyarakat terutama dalam hal menumbuhkembangkan KeBhineka tunggal Ika-an, baik melalui kegiatan jalur sekolah (umpamanya dengan pelajaran PPKn, Sejarah Perjuangan Bangsa, dan muatan lokal), maupun jalur pendidikan luar sekolah (penataran P4, pemasyarakatan P4 nonpenataran)

3. Landasan Kultural
a. Pengertian Landasan Kultural
Kebudayaan dan pendidikan mempunyai hubungan timbal balik, sebab kebudayaan dapat dilestarikan/ dikembangkan dengan jalur mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi penerus dengan jalan pendidikan, baiksecara formal maupun informal.
Anggota masyarakat berusaha melakukan perubahan-perubahan yang sesuai denga perkembangan zaman sehingga terbentuklah pola tingkah laku, nlai-nilai, dan norma-norma baru sesuai dengan tuntutan masyarakat. Usaha-usaha menuju pola-pola ini disebut transformasi kebudayaan. Lembaga sosial yang lazim digunakan sebagai alat transmisi dan transformasi kebudayaan adalah lembaga pendidikan, utamanya sekolah dan keluarga.
b. Kebudayaan sebagai Landasan Sistem Pendidkan Nasional
Pelestarian dan pengembangan kekayaan yang unik di setiap daerah itu melalui upaya pendidikan sebagai wujud dari kebineka tunggal ikaan masyarakat dan bangsa Indonesia. Hal ini harsulah dilaksanakan dalam kerangka pemantapan kesatuan dan persatuan bangsa dan negara indonesia sebagai sisi ketunggal-ikaan.

4. Landasan Psikologis
a. Pengertian Landasan Filosofis
Dasar psikologis berkaitan dengan prinsip-prinsip belajar dan perkembangan anak. Pemahaman etrhadap peserta didik, utamanya yang berkaitan dengan aspek kejiwaan merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, hasil kajian dan penemuan psikologis sangat diperlukan penerapannya dalam bidang pendidikan.
Sebagai implikasinya pendidik tidak mungkin memperlakukan sama kepada setiap peserta didik, sekalipun mereka memiliki kesamaan. Penyusunan kurikulum perlu berhati-hati dalam menentukan jenjang pengalaman belajar yang akan dijadikan garis-garis besar pengajaran serta tingkat kerincian bahan belajar yang digariskan.
b. Perkembangan Peserta Didik sebagai Landasan Psikologis
Pemahaman tumbuh kembang manusia sangat penting sebagai bekal dasar untuk memahami peserta didik dan menemukan keputusan dan atau tindakan yang tepat dalam membantu proses tumbuh kembang itu secara efektif dan efisien.

5. Landasan Ilmiah dan Teknologis
a. Pengertian Landasan IPTEK
Kebutuhan pendidikan yang mendesak cenderung memaksa tenaga pendidik untuk mengadopsinya teknologi dari berbagai bidang teknologi ke dalam penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan yang berkaitan erat dengan proses penyaluran pengetahuan haruslah mendapat perhatian yang proporsional dalam bahan ajaran, dengan demikian pendidikan bukan hanya berperan dalam pewarisan IPTEK tetapi juga ikut menyiapkan manusia yang sadar IPTEK dan calon pakar IPTEK itu. Selanjutnya pendidikan akan dapat mewujudkan fungsinya dalam pelestarian dan pengembangan iptek tersebut.
b. Perkembangan IPTEK sebagai Landasan Ilmiah
Iptek merupakan salah satu hasil pemikiran manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, yang dimualai pada permulaan kehidupan manusia. Lembaga pendidikan, utamanya pendidikan jalur sekolah harus mampu mengakomodasi dan mengantisipasi perkembangan iptek. Bahan ajar sejogjanya hasil perkembangan iptek mutahir, baik yang berkaitan dengan hasil perolehan informasi maupun cara memproleh informasi itu dan manfaatnya bagi masyarakat
B. ASAS-ASAS POKOK PENDIDIKAN
Asas pendidikan merupakan sesuatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berpikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan. Khusu s di Indonesia, terdapat beberapa asas pendidikan yang memberi arah dalam merancang dan melaksanakan pendidikan itu. Diantara asas tersebut adalah Asas Tut Wuri Handayani, Asas Belajar Sepanjang Hayat, dan asas Kemandirian dalam belajar.

1. Asas Tut Wuri Handayani
 Sebagai asas pertama, tut wuri handayani merupakan inti dari sitem Among perguruan. Asas yang dikumandangkan oleh Ki Hajar Dwantara ini kemudian dikembangkan oleh Drs. R.M.P. Sostrokartono dengan menambahkan dua semboyan lagi, yaitu Ing Ngarso Sung Sung Tulodo dan Ing Madyo Mangun Karso.
Kini ketiga semboyan tersebut telah menyatu menjadi satu kesatuan asas yaitu:
Ing Ngarso Sung Tulodo ( jika di depan memberi contoh)
Ing Madyo Mangun Karso (jika ditengah-tengah memberi dukungan dan semangat)
Tut Wuri Handayani (jika di belakang memberi dorongan)

2. Asas Belajar Sepanjang Hayat
Asas belajar sepanjang hayat (life long learning) merupakan sudut pandang dari sisi lain terhadap pendidikan seumur hidup (life long education). Kurikulum yang dapat meracang dan diimplementasikan dengan memperhatikan dua dimensi yaitu dimensi vertikal dan horisontal.
a. Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah meliputi keterkaitan dan kesinambungan antar tingkatan persekolahan dan keterkaitan dengan kehidupan peserta didik di masa depan.
b. Dimensi horisontal dari kurikulum sekolah yaitu katerkaitan antara pengalaman belajar di sekolah dengan pengalaman di luar sekolah.

3. Asas Kemandirian dalam Belajar
Dalam kegiatan belajar mengajar, sedini mungkin dikembangkan kemandirian dalam belajar itu dengan menghindari campur tangan guru, namun guru selalu suiap untuk ulur tangan bila diperlukan.
Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru dalamperan utama sebagai fasilitator dan motifator. Salah satu pendekatan yang memberikan peluang dalam melatih kemandirian belajar peserta didik adalah sitem CBSA (Cara Belajar Siwa Aktif).

A. Permasalahan Pendidikan Nasional
Secara umum pendidikan nasional sedang menghadapi dua tantangan yang berat yaitu internal dan eksternal. Secara internal, pendidikan nasional dihadapkan pada hasil-hasil studi internasional yang selalu menempatkan kita pada posisi juru kunci untuk pendidikan dan rangking atas untuk korupsi. Kondisi semacam ini rupanyaselalu diucapkan dan diwiridkan dimana-mana secara berulang-ulang, sehingga membentuk konsep diri kita bahwa pendidikan kita jelek, tidak bermutu dan terbelakang.
Dalam hal pembangunan manusia yang indikatornya meliputi Pendidikan, Kependudukan dan Kesehatan dalam laporan Human Development Report 2004, hanya menempatkan indonesia di peringkat 111 dari 117 negara. Bahkan kita tertinggan jauh dari Malaysia, Thailand bahkan Filipina.
Letak kunci kemajuan pendidikan negara-negara tersebut antara lain karena tingginya anggaran pendidikan dan tingginya perhatian pada profesinalisme guru yang dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan mereka yang memadai. Variabel lain seperti kurikulum, sarana, fasilitas juga dangan mereka perhatikan. Hal ini tentu sangan berlawanan dengan situasi pendidikan di Indonesia dimana anggaran pendidikan yang masih rendah, sarana dan fasilitas yang belum memadai, biaya pendidikan yang mahal, profesionalisme guru yang masih rendah dan sebagainya.
Disisi lain, kita juga dihadapkan dengan tantangan eksternal yaitu: perubahan yang cepat dari lingkungan strategis diluar negara kita. Kita tidak bisa mengelak dari tekanan eksternal tersebut dimana persaingan dan kompetisi antra negara semakin ketat.
Mengahadapi kedua tantangan tersebut, maka perubahan dan inovasi merupakan “kata kunci” yang perlu dijadikan titik tolak dalam mengembangkan pendidikan nasional pada umumnya, Pengembangan tersebut tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah pusat atau daerah, tetapi memerlukan masukan masukan dan gerakan bersama antarsemua institusi, baik intitusi pendidikan (dasar, menengah dan tinggi), institusi ekonomi, politik, sosial, budaya, agama serta masyarakat pada umumnya, untuk mendudkung terwujudnya cita-cita tersebut.

b. Kecendrungan Globalisasi
Pengertian globalisasi bagi ilmuwan social diartikan sebagai proses penyebaran rasa cipta dan karya suatu kebudayaan sehingga diterima dan diadopsi oleh kebudayaan lain diseluruh dunia (selo sumardjan, 1993 yang dikutip yusufhadi, 1997).

c. Perkembangan IPTEK
Salah satu ciri masyarakat masa depan adalah perkembangan IPTEK yang semakin cepat. Perkembangan IPTEK dapat berdampak positif maupun negative, tergantung pada kondisi social budayanya dalam menerima informasi atau teknologi tersebut. Dampak positifnya adalah dapat memudahkan dalam memenuhi kebutuhan pembangunan. Segi negative terjadi jika kondisi social budaya belum siap menerima pengaruh IPTEK tersebut.

d. Perkembangan Arus Komunikasi dan Informasi yang Semakin Cepat
Semakin maju suatu masyarakat, semakin banyak informasi yang diperlukan . Penggunaan satelit komunikasi dan computer telah membuka peluang adanya surat kabar elektronik, siaran langsung dari berbagai penjuru dunia tentang berbagai peristiwa penting yang sedang terjadi atau wawancara jarak jauh melalui televise.

e. Tuntunan Layanan Profesional
Masyarakat masa depan ditandai oleh kebutuhan akan layanan professional dalam berbagai bidang kehidupan. Layanan professional ini diberikan oleh pemegang profesi tertentu. Profesi pada dasarnya adalah suatu bidang pekerjaan khusus yang ditandai dengan keahlian dan tanggung jawab.

1. Manfaat Pendidikan
Pembahasan tentang pengawasan pendidikan harus diawali dengan dua pengamatan dasar, pertama bahwa orang-orang dengan pendidikan yang lebih tinggi berbeda dengan orang yang kurang berpendidikan. Pengamatan kedua adalah perubahan individu yang terjadi setelah mereka mendapatkan yang lebih tinggi.

2. Perkiraan Masyarakat Masa Depan
Perubahan masyarakat masa depan dan kebudayaan dari hari kehari semakin cepat yang meliputi seluruh aspek manusia. Perubahan yang semakin cepat ini merupakan ciri masyarakat masa depan yang dapat dilihat dari beberapa karakteristik umum, yaitu :
a)Kecendrungan globalisasi
b)Perkembangan IPTEK
c)Perkembangan arus komunikasi dan informasi yang semakin cepat
d)Tuntunan layanan professional
3. Kecendrungan Globalisasi
Pengertian globalisasi bagi ilmuwan social diartikan sebagai proses penyebaran rasa cipta dan karya suatu kebudayaan sehingga diterima dan diadopsi oleh kebudayaan lain diseluruh dunia (selo sumardjan, 1993 yang dikutip yusufhadi, 1997). Dalam proses globalisasi, budaya yang kuat dan agresif akan mempengaruhi budaya yang lemah dan pasif. Budaya yang kuat dan agreesif adalah budaya yang bersifat progresif yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a. Mempunyai cara berpikir yang rasional dan realistis
b. Mempunyai kebiasaan membaca yang tinggi
c. Mempunyai kemampuan menyerap dan mengembangkan dengan cepat dan banyak
d. Terbuka terhadap inovasi dan selalu berusaha mencari hal-hal yang baru
e. Mempunyai pendangan hidup yang berdemensi local, nasional dan universal
f. Mampu memprediksikan dan merencanakan masa depan
g. Memanfaatkan teknologi yang selalu berkembang
Emil Salim (1990) mengemukakan bahwa terdapat empat bidang yang paling kuat dan menonjol daya dobraknya yaitu : Bidang IPTEK, Bidang ekonomi, Bidang lingkungan hidup dan Bidang pendidikan.
Menulis sejak setahun yang lampau di Kompasiana memberikan saya pandangan yang lebih luas tentang pemikiran manusia yang tertuang lewat tulisan. Aktif menulis di Kompasiana dan membaca beberapa posting teman-teman di sini juga membuat saya bisa mengamati tipikal beberapa penulis di Kompasiana yang membuat saya kagum sekaligus merasa bahwa komunitas Kompasiana ini telah begitu mampu membuat banyak manusia-manusia penulis baru bermunculan.
Pada salah satu tulisan saya seorang pembaca mengatakan mampukah saya untuk mengenali masing-masing karakter orang lewat tulisannya? Saya rasa secara teoritis mungkin bisa saja tetapi kalau secara klinis praktis hal itu tentu tidak bisa dilakukan karena penulis-penulis di Kompasiana bukanlah pasien-pasien saya. Mereka adalah teman-teman kepenulisan saya di sini. Lalu kemudian saya berpikir-pikir, rasanya ada sesuatu yang bisa saya ungkapkan di sini berkaitan dengan karakter tulisan-tulisan di Kompasiana. Suatu hal yang mungkin saya bisa pikirkan sebagai sesuatu yang merupakan ciri masyarakat masa depan.
A. Berani
Tulisan teman-teman di Kompasiana banyak yang begitu berani. Berani mengungkapkan kebenaran dan ide-ide. Beberapa bahkan mengungkapkan kebenaran berdasarkan pencarian literatur yang serius. Tidak heran karena penulis-penulis di sini beberapa adalah orang-orang yang akrab dengan kepenulisan, keilmuan dan penelitian. Kompasiana seperti sarana untuk menelurkan gagasan-gagasan atau ide-ide yang belum tentu bisa dituliskan di media umum yang mainstream. Bahkan untuk hal-hal berbau agama yang terkadang sensitif, ada beberapa penulis yang bisa menuliskannya walau berkali-kali ia mati (anda tentu tahu siapa yang kita bicarakan)
B. Lugas
Bahasa yang digunakan oleh teman-teman di sini kebanyakan bahasa bercerita. Ada yang memang melaporkan seperti wartawan, tetapi kebanyakan teman saya di Kompasiana lebih sering bercerita tentang kehidupan sehari-hari ataupun pendapatnya tentang lingkungan sekitarnya. Bahasanya lugas dan apa adanya. Ada juga penulis yang agak asosiasi longgar alias gak nyambung, tetapi biasanya jumlahnya sedikit. Kebanyakan isinya bercerita dengan bahasa kebiasaannya. Kondisi ini yang seringkali mudah diteliti tentang bagaimana orang di balik tulisan itu.
C. Terbuka dan Berpikiran Luas
Salah satu hal yang membuat saya senang menulis di sini adalah orang-orang yang ada di dalam Kompasiana adalah orang-orang terbuka dan berpikiran luas. Kebanyakan saya melihatnya dari komentar-komentar tulisan terutama tulisan yang kontroversi. Bagi saya komentar-komentar yang pedas sekalipun atau bahkan menyinggung sekalipun ditanggapi biasanya dengan terbuka. Saling komentar dan serang jadi barang biasa di Kompasiana dan menurut saya itu bagus juga untuk membukakan pandangan kita.
D. Kritikus Handal
Saya berani menulis di Kompasian sesuai bidang saya, tetapi kalau saya menulis hal yang tidak terlalu langsung berkaitan dengan bidang saya, maka akan ada teman-teman di sini yang akan membantu dengan kritikan yang bagus jika tulisan saya kurang memenuhi kriteria mereka. Saya senang karena melihat dari komentarnya terlihat orang ini menjadi orang yang lebih memahami masalah dibandingkan saya. Saya belajar dengan mereka dan mendapatkan ilmu baru.
Saya baru bisa menemukan empat kelebihan penulis-penulis di Kompasiana ini. Mungkin anda bisa menambahkannya. Terima kasih

0 komentar:

Posting Komentar